Jatim, Suara Situbondo-Saat ini ada persoalan antara HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau yang dikenal sebagai Gus Lilur dengan sejumlah pihak di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi sorotan. Setelah dirinya diadukan ke Bareskrim Mabes Polri terkait dugaan penghinaan dan fitnah terhadap KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Gus Lilur justru melontarkan tantangan terbuka.
Aduan terhadap Gus Lilur sebelumnya dilayangkan Forum Advokasi Rekonsiliasi Untuk Keadilan (FARUK). Aduan tersebut berkaitan dengan pernyataan Gus Lilur dalam sebuah podcast yang kemudian beredar luas di media sosial. FARUK menilai pernyataan tersebut diduga menyerang kehormatan Gus Kikin, termasuk terkait pernyataan bahwa Gus Kikin tidak memahami agama atau tidak bisa mengaji.
Ketua FARUK, M. Chalid, mengatakan langkah hukum tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap marwah ulama sekaligus untuk mencegah munculnya kegaduhan menjelang pelaksanaan Muktamar NU. FARUK juga menyatakan tetap membuka ruang tabayyun, klarifikasi, dan penyelesaian secara baik.
Menanggapi persoalan tersebut, Gus Lilur kemudian membuat pernyataan bertajuk “Tantangan Terbuka”. Dalam pernyataannya, ia menyebut dirinya harus membuktikan tuduhan yang menjadi persoalan hukum tersebut.
Masih kata Gus Lilur, Aktivis Nahdlatul Ulama Asal Situbondo HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur menantang empat orang tokoh NU untuk mengarang kitab di arena Muktamar NU ke-35. Adapun empat orang tersebut yakni, Miftahul Akyar, Gus Kikin, Saifullah Yusuf, dan Nusron Wahid.
Langkah tersebut diambil Gus Lilur karena ia telah diadukan ke Bareskrim Polri karena dugaan fitnah.
"Berhubung saya dipidana karena dituduh memfitnah Gus Kikin gak bisa ngaji, tentu saya harus membuktikan bahwa Gus Kikin gak bisa ngaji," ujarnya, Rabu, 26 Agustus 2026.
"Dalam rangka pembuktian hukum bahwa Gus Kikin gak bisa ngaji, dengan segera hormat dan kerendahan hati, saya tantang ngarang kitab di arena Muktamar NU empat orang berikut. Yakni Miftahul Akyar, Gus Kikin, Saifullah Yusuf, dan Nusron Wahid," tegas Gus Lilur.
Kalau ternyata keempatnya gak bisa ngaji, Gus Lilur minta mereka untuk mondok di Pesantren Tambak Beras lokasi Muktamar NU sampai bisa ngaji. "Kalau gak bisa ngaji ya mereka harus mondok di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur," pungkas Gus Lilur. (ww)

Komentar0